Sepeda dari Presiden

pexels-photo-71096

Malam Minggu, baru jam sepuluh, di sebuah kedai kopi Jakarta Selatan.

“Hah? Putus?” tanyaku sambil memandangi mata pacarku lekat-lekat. Sebenarnya ingin langsung kulanjutkan dengan “Kenapa?”, tapi aku yakin kalau pertanyaan itu tak ada gunanya. Kuberitahu satu hal. Aku paling malas dengan basa-basi. Bagiku yang sudah ya sudah. Dan nggak semua hal perlu alasan. Tak semua pertanyaan mesti dijawab. Dan pertanyaan “Kenapa?” tadi akan semakin menyebalkan kalau ternyata nanti dijawabnya dengan “Kenapa tidak?”

“Aku lebih nyaman kita temenan,” lanjutnya.

Bullshit. Kataku. Tentu saja dalam hati. Masih kuingat dengan jelas, dia yang pertama mendekatiku. Dia yang pertama ingin bertemu dan memakai alasan ingin belajar menulis cerpen, ingin ngobrol soal musik grunge pasca Nirvana, dan ingin mulai mencintai film Indonesia. Katanya. Saat itu pada dasarnya aku sedang kesepian, jadi ya terjadilah. Hanya dalam waktu singkat, dua kali kencan. Kencan pertama berakhir dengan makan steak, kencan kedua berakhir dengan makan seafood, dan makan seafood berlanjut dengan sarapan. Keesokan harinya. Di apartemennnya.

Satu ciuman manis di pagi hari membuat kami langsung naik status ke pacaran.

“Aku belum siap punya hubungan serius,” sambungnya.

Ini lebih bullshit lagi. Bantahku. Masih dalam hati. Sejauh ini kami memang belum pernah membicarakan hubungan lebih serius. Bahasan-bahasan tentang pernikahan dan komitmen seringkali membuat kami berdebat sampai pagi. Kadang di apartemennya, kadang di rumah kontrakanku, tapi seringnya juga di chat. Jadi kenapa masih memakai alasan ini? Please lah!

“Kita udah nggak cocok lagi,” bisiknya.

Ingin rasanya aku membantah dengan kutipan “Cinta bukan hanya tentang menyamakan beda..” atau semacamnya. Tapi tentu saja kuurungkan. Sejak awal kusadari betul kalau aku dan dia memang benar-benar berbeda dalam banyak hal. Makanan, minuman, musik, buku, sampai film favorit, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil dan pemikiran atau sikap dalam beberapa hal. Sangat berbeda. Memang susah dibayangkan kalau akhirnya kami bisa bersama.

“Aku pengen sendirian dulu,” lanjutnya lagi.
“Sebentar,” selaku. “Tadi kamu sudah sebutin berapa alasan? Lima?”
“Baru empat.”
“Apa saja?”
“Aku lebih nyaman temenan.”
“Satu. Terus?”
“Aku belum siap punya hubungan serius.”
“Dua.”
“Kita udah nggak cocok lagi.”
“Tiga. Terus?”
“Aku pengen sendirian dulu.”

Aku kembali memandangi matanya lekat-lekat. Mata yang pernah akhirnya membuatku perlahan tenggelam, lalu jatuh setengah mati itu. Senyum yang menemaniku empat bulan terakhir. Perempuan cantik yang membuatku sejenak lupa dengan hiruk pikuk Pilkada Jakarta.

Tapi perpisahan tetaplah perpisahan. Dan yang diawali dengan baik juga harus diakhiri dengan baik juga. Datang tampak muka, pulang harus tampak punggung. Begitu kata orang-orang zaman dulu.

“Tadi apa alasan terakhirnya?” tanyaku lagi.
“I need space!” jawabnya tegas. “Aku pengen sendirian dulu.”
“Okelah,” aku akhirnya menyerah. “Ya sudah sana ambil sepedanya.”

***

Sepeda dari Presiden

Gerimis Kemudian Hujan

large

Percayalah. Gerimis itu menginspirasi.

 

Apalagi kalau ini malam minggu, kau sendirian di kedai kopi yang isinya orang pacaran semua, Flores Bajawa yang biasa kau pesan rasanya sedang tak bisa kau bedakan dengan Aceh Gayo,  headphonemu ketinggalan, telingamu pasrah dengan Closer yang diputar berkali-kali, dan tulisan yang mesti kau selesaikan malam ini menguap idenya entah ke mana.

 

Gerimis di luar jadi semakin menginspirasi. Menginspirasimu melakukan hal yang kurang penting.

 

Dan inilah yang kulakukan sekarang; menutup laptop, meraih handphone, membuka Instagram beberapa orang. Semuanya perempuan tentu saja. Salah satunya mantan pacarku.  Menonton IG Stories mereka, mengirim komen yang sebenarnya tak bisa dibilang komen juga. Karena cuma berupa tiga biji emoji tertawa sambil menangis.

 

Niatannya tentu cuma satu hal: caper.

 

Semenit. Dua menit. Tiga menit.

 

Ting!

Ting! Ting!

Ting!

Ting! Ting! Ting!

 

Tujuh pesan masuk. Balasannya tak ada sesuai harapan. Iseng dan caper yang berbalas basa-basi. Emoji dibalas emoji. Tidak penting. Saking tidak pentingnya hingga tak perlu diceritakan di sini.

 

Enam menit. Delapan menit. Sepuluh menit.

 

Ting!

 

Aku melirik layar handphone. Sebaris pesan, bukan dari inbox Instagram, tapi dari WhatsApp.

 

“Haaaaaiiiii!”

 

Yang ini dari si mantan rupanya. Beberapa pengecut enggan move on seringkali menghapus nama mantannya setelah putus, atau menggantinya dengan nama yang aneh-aneh. Tapi tentu saja itu  tak kulakukan. Nama mantan pacarku masih tertulis lengkap di phonebook. Nama indah yang dulu sering kusebut sama cantiknya dengan senyumnya itu.

 

“Yep!”

 

Tadinya ingin kubalas dengan “Haaaaaaaiiiiiiiii” yang lebih panjang lagi. Tapi naluri kelaki-lakianku melarang. Jadinya cukup “Yep!” saja. Bahkan di saat seperti ini pun aku masih berusaha sok cool.

 

“Apa kabar, Le?”

 

Hore! Dia yang menanyakan kabar duluan. Otakku langsung berpikir keras. Mencari-cari jawaban paling pas.

 

Terlalu lama. Pesan berikutnya keburu masuk.

 

“Apa kabar, Al? Eh.. Gue manggil lo apa enaknya?”

 

Ini dia. Dua pesan berturut-turut. Meski aku-kamu sudah berubah jadi lo-gue. Memang sebenarnya nggak ada bedanya. Tapi tak tahu apa penggalan yang tepat untuk nama “Ale”, itu soal lain lagi. Secepat kilat jari-jariku mengetik pesan balasan.

 

 “Memang dulu manggilnya apa?”

 

Semenit. Dua menit. Tak ada balasan. Hanya “typing..” dan “Online” yang bergantian. Sampai akhirnya..

 

“Dulu sih manggilnya sayang.”

 

Gerimis di luar tiba-tiba menjadi hujan deras. Kalau gerimis bisa menginspirasimu melakukan hal kurang penting, mungkin hujan kali ini akan mengajakmu melakukan hal yang tidak-tidak.

 

***

Cipete, 10 Desember

Gerimis Kemudian Hujan

Teruslah Berlari

redconverse

Melangkah. Berlari. Melangkah. Berlari lagi. Kemudian berhenti.

Ada waktunya kau harus terus berlari, tapi kau juga harus sadar kapan waktunya berhenti.

 

Aku keluar dari bis Transjakarta dengan langkah setengah terseret. Siang hari, dan Blok M adalah terminal terakhir. Jadi tak banyak penumpang yang tersisa. Tak perlu khawatir ada yang mendorong-dorongku dari belakang cuma karena terburu-buru.

 

“Tahu tempat sol sepatu, Pak?” tanyaku pada satpam di pintu keluar Terminal.

Dia tidak langsung menjawab. Tapi terlebih dulu memandangi muasal langkahku yang terseret siang ini. Sol sepatu kiri yang menganga seperti kelaparan.

 

“Kenapa sepatu kamu?” tanyanya.

“Nah. Itu dia,” jawabku. “Saya harus ke tukang sol sepatu. Bapak tahu tempatnya?”

“Lurus, naik tangga, lalu keluar. Tukang sol ada di dekat musholla dan toilet.”

 

Aku mengangguk dan berterima kasih, lalu berjalan menuju arah yang ditunjukkan si satpam. Masih dengan langkah terseret akibat sepatu kiri sialan yang solnya rusak di saat tak tepat itu.

 

Kau tahu? Reparasi sol sepatu di mall harganya bisa sepuluh kali harga makan siang di warteg. Jadi beruntunglah kali ini sepatuku rusak saat sudah mendekati terminal Blok M. Sebuah tempat yang harga-harganya jelas jauh lebih masuk akal bagiku daripada harga mall.

 

Beruntung? Iya, beruntung. Selalu ada keberuntungan di balik setiap kesialan kan? Padahal namanya sial ya sial saja. Ah sudahlah..

 

Hanya butuh lima menit sampai akhirnya aku berdiri di depan tempat sol sepatu. Sebuah piring dan gelas yang sudah kosong terlihat di atas meja. Si tukang nampaknya baru selesai makan siang. Dan seperti juga si satpam tadi, si tukang pun langsung sadar dengan sol sepatu kiriku yang menganga. Semuanya kemudian berjalan cukup cepat.

 

Sat set bat bet. Bat bet sat set.

 

Tak sampai setengah jam, sepatu kiriku sudah terjahit rapi. Kembali normal dan nyaman dipakai seperti semula.

 

“Berapa, Pak?” tanyaku.

“Nggak usah,” dia menggeleng.

“Yang bener, Pak.”

“Sudahlah. Bawa aja. Gratis.”

“Pak. Saya punya uang, kok,” suaraku mulai meninggi. “Berapa?”

“Nggak apa-apa. Gratis. Sungguh.”

“Oke. Bapak yang memaksa. Tapi saya mesti tahu alasannya.”

“Alasan apa?”

“Alasan kenapa gratis.”

“Buat pemilik kaki-kaki yang tak berhenti mengejar cinta, saya kasih gratis,” jawab si tukang enteng.

 

Mendadak aku penasaran dengan menu si tukang saat makan siangnya tadi.

 

***

 

Teruslah Berlari

Setahun Sekali

{Kepada K}

 

Setahun sekali,
kita nikmati Jakarta seperti
dalam cerpen metropop.
Kau bisa memilih martini, scotch,
kahlua, atau apapun sesukamu.

Di sini tidak mungkin
ada ondel-ondel yang kau takuti.
Tak ada Matraman yang kau hindari,
tak ada Pramuka yang selalu kau maki.
Sambil menertawakan hidup,
kita mulai hal yang lebih hidup.

Di dingin meja bar,
kita akan membicarakan apa saja.
Manis cinta, rindu rumah,
mimpi pernikahan, pilihan sulit,
yang membuatmu tersenyum hari ini,
hingga dahsyatnya ranjangmu semalam.

Nanti di dasar gelas
yang isinya tinggal segaris,
kau akan tahu.
Bahwa Jakarta adalah
hal nomor dua yang paling kusuka
setelah senyummu.

***

 

Setahun Sekali

Menjadi Malam Minggunya

12530751_1511493645848031_2012035648_n

“Dari pertama liat kamu, aku udah yakin kamu bukan orang biasa.”

“Oh ya? Keliatannya gimana?”

“Susah jelasinnya.”

“Pasti baik dan sabar”

“Perempuan tau kok mana orang baik dan mana orang jahat.”

“Bukannya perempuan sering terjebak sama laki-laki yang terlihat baik?”

“Justru itu. Kamu nggak kelihatan baik.”

“Hahaha!. Sialan.”

***

“Dari pertama liat kamu, aku udah yakin kamu bukan orang biasa.”

“Hmm..”

“Dan tebakanku benar. Pekerjaan kamu nggak jauh-jauh dari film. Kamu orang film.”

“Nggak juga. Soal film-filman cuma pekerjaan kedua. Di Jakarta, kamu punya dua pilihan buat survive. Cari pekerjaan tambahan, atau ubah gaya hidup.”

“Hmm..”

“Dan dengan gaya hidupku sekarang, yang nggak hedon-hedon banget dan nggak ngirit-ngirit banget, tapi duitnya tetap nggak cukup ini, pilihannya tinggal satu. Pekerjaan tambahan.”

“Kamu kuliah film?”

“Nggak Ceritanya panjang sampai kemudian keasikan di film.”

“Aku suka orang film.”

“Orang film, apalagi film pendek memang menyenangkan kok.  Mereka terbiasa menyampaikan sesuatu dengan lugas. Satu konflik, satu solusi, kelar. To the point.”

“Anyway, pacarku lagi nggak di Jakarta. Kamu mau main ke apartemenku?”

“Err.. Itu agak terlalu to the point sih.”

***

Menjadi Malam Minggunya